Tampilkan postingan dengan label Miss Word 2013. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Miss Word 2013. Tampilkan semua postingan

Jumat, 06 September 2013

Tanggal 14 September, Umat Islam Siap Duduki Hotel Kontestan Miss World


Plazaindonesia Tanggal 14 September, Umat Islam Siap Duduki Hotel Kontestan Miss World
AKSI umat Islam  menolak Miss World belum selesai. Sabtu (14/9), Forum Umat Islam berencana untuk mengepung Hotel Grand Hyatt. Hotel ini sedianya menjadi tempat menginap bagi para kontestan Miss World.
“Kami akan mengepung Hotel Hyatt Jakarta karena pada tanggal 14 September (2013) nanti seluruh peserta Miss World dari seluruh dunia akan datang dan menginap di situ,” ujar Bernard Abdul Jabbar dari Forum Umat Islam, Jum’at (6/9) di depan kantor MNC, Jakarta.
Sementera itu Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq meminta umat Islam turut mensukseskan rencana  menduduki Hotel Grand Hyatt. “Tanggal 14 September kita akan nginap di Grand Hyat, bawa anak, bawa istri, dan ajak saudara-saudara lainnya,” tandas Habib Rizieq.
“Apa kalian siap?” tanyanya kepada massa umat Islam.
“Siap,” sambut ribuan umat Islam yang mengepung gedung MNC, sore tadi.
Habib menyebutkan, aksi massa pada 14 September itu merupakan awal perlawanan FUI. Jika penyelenggara tetap melaksanakan kontes tersebut, kata Habib, FUI siap mengambil tindakan pada malam final Miss World di Sentul, Bogor, Jawa Barat.
Seperti diketahui, para peserta Miss World akan menginap selama 10 hari di Hotel Grand Hyatt sebelum menyambut puncak gelaran kontes ratu kecantikan resebut pada 28 September 2013 di Sentul International Convention Centre (SICC).

Rabu, 04 September 2013

10 Ormas Islam Lakukan Konsolidasi Gagalkan Miss World


hti miss world 640x426 10 Ormas Islam Lakukan Konsolidasi Gagalkan Miss World
Kamis siang (29/8) 10 ormas Islam berkumpul di kantor Hizbut Tahrir Indonesia untuk melakukan konsolidasi guna mengagalkan Miss World. Hadir dalam kesempatan ini di antaranya Lembaga Dakwah Kemuliaan Islam (LDKI), Jamaah Anshorut Tauhid (JAT), Syarikat Islam, Al Irsyad al Islamiyah, Persatuan Muslimin Indonesia (Parmusi), Taruna Muslim, Hidayatullah, Al Ittihadiyah, dan Korps Mubaligh Jakarta (KMJ).
Menurut Jubir HTI Muhammad Ismail Yusanto, Indonesia menjadi target liberalisasi mulai dari Irsyad Manji, Lady Gaga, sekarang Miss World. Artinya, ini liberalisasi Indonesia sebagai negeri Muslim terbesar di dunia terencana dan sistematis. Persoalan Miss World bukan sekedar bikini tapi ajang eksploitasi perempuan untuk kepentingan industri seksual, kosmetik dan fashion. “Ini merendahkan perempuan!” tegasnya.
Jubir JAT Son Hadi menolak tegas acara Miss World karena mengeksploitasi aurat. Pria asal Surabaya ini menuntut agar MNC Group membatalkan kontes ratu se jagad tersebut.
“Sekalipun pakai cadar dan jilbabpun, Miss World tetap haram karena dia menjadikan perempuan sebagai objek. Ini perang peradaban sebelum perang sesungguhnya,” katanya.
JAT, kata Son, siap untuk membatalkan acara tersebut. Untuk itu, organisasinya siap untuk mengunjungi kantor MNC Group dalam waktu dekat. “Sepanjang itu perintah Syariat, maka kita akan berupaya untuk menggagalkan,” tegasnya.
Hal senada juga dikemukakan oleh Ketua Umum Taruna Muslim, Alfian Tanjung. Pengalamannya bersama umat Islam membatalkan konser Lady Gaga menjadi spirit untuk dapat mengusir Miss World dari Indonesia.
“Kami bertekad untuk menggagalkan Miss World!” ancamnya.
Sementara itu, Perwakilan Parmusi Taufikurrahman menyebut ada agenda westernisasi dibalik ajang Miss World. Celah ini harus diperhatikan oleh umat Islam.
“Miss World akan menjadi titik masuk westernisasi yang lebih besar lagi!” prediksinya.
Bahkan mantan anggota DPR Mashadi dan juga pendiri LDKI menyerukan jika ajang Miss World tetap dilaksanakan, maka akan terjadi revolusi di Indonesia. Tak sekedar mengutuk keras, Mashadi juga menyamakan penyelenggaraan Miss World di negeri yang mayoritas Muslim ini dengan memaksa umat Islam memakan daging babi. Sebab kegiatan dipaksakan untuk digelar di tengah negara muslim.
“Harry Tanoe dan Istrinya sama dengan menyuruh kaum Muslim Indonesia memakan daging babi!” hardiknya.

60 Ormas Islam Desak Miss World Dibatalkan


miss world hip 60 Ormas Islam Desak Miss World Dibatalkan
Suasana tampaknya semakin memanas. Tokoh-tokoh Islam sangat geram dan mendesak agar Miss World 2012 dibatalkan. Dalam pandangan para ulama dan tokoh, kontes kemaksiatan ini merupakan kemungkaran yang nyata, karena itu harus dibatalkan.
Hal itu ditegaskan tokoh-tokoh Islam dalam  talkshow Halqah Islam dan Peradaban (HIP) Edisi 47: Tolak Miss World, Haruskah yang dihadiri  sekitar 300 peserta Rabu (4/9) di Jakarta Pusat.
Ketua DPP HTI Rokhmat S Labib pun menyatakan kontes Miss World ini merupakan bagian global negara kapitalisme kepada negeri-negeri Muslim.  “Mereka menjajah kita terkait kreteria cantik!” tegasnya.
Kontes kecantikan sudah jelas haram, beber Rokhmat, karena ini sudah membandingkan ciptaan Allah SWT, jadi sebelum membuka aurat sudah membandingkan, dan itu merupakan pelecehan terhadap Penciptanya. Belum lagi membuka aurat dan mengeksploitasi, jelas bertambah lagi kemungkarannya.  “Diam terhadap masalah ini, berati mengundang azab Allah SWT,” tegasnya.
Pernyataan yang tegas disampaikan KH Muhyiddin, ulama dari Kabupaten Bogor. Ia pun membacakan Surat At Taubah ayat 71 yang isinya menyatakan Mukmin laki-laki dan Mukmin perempuan satu dengan yang lainnya itu harus saling melindungi, bekerja sama dalam rangka amar makruf nahyi munkar.
“Miss World adalah kemungkaran yang nyata, bahwa Anda orang beriman wajib menolak acara kemungkaran Miss World, kecuali tidak beriman!” tegasnya.
Seruan membatalkan digelarnya Miss World pun membahana di ruangan itu. Para tokoh yang hadir di ruangan itu termasuk Djauhari Syamsuddin (Ketua Umum Syarikat Islam), Alfian Tanjung (Ketua Taruna Muslim Indonesia), Manajer Nasution (Komisioner Komnas HAM), Shaharuddin Daming (mantan Komisioner Komnas HAM), KH Muhyiddin (Ulama dari Kabupaten Bogor), Eggi Sudjana (mantan calon Gubernur Jatim), Ahmad Daryoko (Ketua Federasi Serikat Buruh BUMN Strategis) serta tokoh-tokoh mubalighah dan perempuan sepakat menyerukan pembatalan Miss World.
Sedangkan Najmuddin Ramly, anggota Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik PP Muhammadiyah, menegaskan sikap ormas-ormas Islam terkait Miss World.
“Pak Budi sama Pak Aji (MNC), tidak punya kapasitas untuk membatalkan, minimal hasil forum ini disampaikan kepada Hari Tanoe dan Liliana, kami 60 ormas Islam mendesak Miss Wolrd ini dibatalkan.  Dan tidak ada kompromi, dan hanya satu proposal ormas Islam, batalkan Miss World ini!” tegasnya kemudian disambut takbir hadirin yang semakin panas dan siap menggeruduk kantor MNC Group pada Kamis (5/9) pukul 13.00 WIB dengan startnya dari Kemenkokesra.

8 Ormas Islam Serukan Tolak Miss World



Sehubungan dengan pelaksanaan Kontes Miss World di Indonesia yang berlangsung pada bulan September 2013, Majelis Ormas Islam Indonesia yang merupakan kumpulan dari berbagai Ormas Islam di Indonesia yaitu Persis, Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia, Persatuan Ummat Islam (PUI), Mathla’ul Anwar, Al Ittihadiyah, Syarikat Islam, Ikadi, Perti dan Wahdah Islamiyah sesuai hasil pertemuan yang dilaksanakan di Kantor Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia pada hari Selasa 3 September 2013 mengeluarkan pernyataan sikap MENOLAK Pelaksanaan Kontes Miss World di Indonesia.

Adapun Pernyataan lengkap Majelis Ormas Islam Indonesia tentang Pelaksanaan Miss World adalah sebagai berikut :



PERNYATAAN SIKAP

MAJELIS ORMAS ISLAM INDONESIA

TENTANG PELAKSANAAN MISS WORLD 2013 DI INDONESIA



Sehubungan dengan akan diselenggarakan Miss World di Indonesia, Majelis Ormas Islam Indonesia menyatakan sikap sebagai berikut :

1. Menolak Penyelenggaraan Miss World di Indonesia karena :

a. Bertentangan dengan nilai-nilai Islam dan etika serta budaya bangsa Indonesia

b. Bertentangan dengan Pancasila dan UUD 1945

c. Bertentangan dengan pasal kesusilaan dalam KUHP Pasal 281 – 282

d. Bertentangan dengan fatwa MUI No. 287 Tahun 2001

e. Bertentangan dengan UU Pornografi

2. Mendesak Pemerintah c.q Kapolri untuk membatalkan izin penyelenggaraan Miss World di Indonesia



Jakarta, 27 Syawal 1434 H/3 September 2013



MaJelis Ormas Islam Indonesia

- Pengurus Pusat PERSIS

- Pengurus Pusat Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia

- Pengurus Pusat IKADI

- Pengurus Pusat Wahdah Islamiyah

- Pengurus Pusat PUI

- Pengurus Besar Mathla’ul Anwar

- Pengurus Pusat Al Ittihadiyah

- Pengurus Pusat PERTI

Selasa, 03 September 2013

Tolak Miss World, PII Wati Jateng Surati Ibu Negara



ani yudhoyono 420x285 Tolak Miss World, PII Wati Jateng Surati Ibu NegaraPENYELENGGARAAN ajang Miss World yang akan digelar di Bali dan Jakarta pada tanggal 8 September 2013 mendatang mendapatkan penolakan dari berbagai kalangan seperti Majelis Ulama Indonesia (MUI), Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) dan lainnya.
Penolakan juga datang dari Koordinator Wilayah PII Wati Pelajar Islam Indonesia (PII) Jawa Tengah. Mereka melakukan penolakan dengan menyurati secara terbuka kepada Ibu Negara Ani Yudhoyono dan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Linda Amalia Sari.
Koordinator Wilayah PII Wati Pelajar Islam Indonesia (PII) Jawa Tengah Nurul Huda Zaen mengatakan keberlangsungan Miss World justru telah memperbudak kaum perempuan dengan predikat cantik, karena menurutnya cantik memiliki makna yang relatif di etiap negara.
“Bagaimanapun  Miss World tidak bisa dilepaskan dari dua kata yakni ‘cantik’ dan ‘uang’. Cantik memiliki makna yang relatif di setiap negara. Ketika dipaksakan, kaum hawa bisa diperbudak oleh predikat cantik yang sangat sempit. Sehingga mereka tak sadar bahwa selama ini mereka telah dieksploitasi” kata Huda, hari Selasa (3/9/2013) kemarin.
Dalam suratnya, PII Wati Jawa Tengah meminta kepada Ibu Negara untuk untuk menolak kontes ratu sejagat tersebut, sehingga tidak berdampak negatif terhadap pendidikan dan kebudayaan putri-putri di bumi pertiwi.
“Ibu Ani Yudhoyono dan Ibu Linda Amalia Sari, tentang ‘Ratu Sejagat’ itu, apakah saya juga harus kabarkan kepada pelajar-pelajar putri? Mereka sedang asyik belajar tentang jati diri seorang remaja. Mereka mencari-cari sosok idola sebagai panutan hidup masa depan. Betapa mereka terlihat sangat giat belajar dan bekerja keras demi cita-cita. Apakah harus mereka tahu bahwa cantik (hal yang mereka inginkan) adalah tentang tubuh indah untuk dipamerkan? Bagaimana ini?” demikian bunyi tulisan dalam surat terbuka tersebut.
Rencananya, surat tersebut akan dikirimkan melalui pos yang dialamatkan ke Istana merdeka dan Kantor kementrian Pemberdayaan dan perlindungan Anak di Jakarta pada Rabu (4/9). Selain itu juga akan dikirim melalui email.

Miss World, Ajang Eksistensi Intelektualitas?


INTELEK, cantik dan berkepribadian, itulah interpretasi slogan 3B-nya (Brain, Beauty, Behavior) Miss World. Kontes kecantikan tertua di dunia ini setiap tahun menghadirkan ratusan peserta yang tak hanya berparas menawan, tapi juga pintar dan berperilaku baik. Ya, Miss World 2013 telah menjelang. Ajang ini akan digelar pada September ini. Bali pun diputuskan sebagai pusat karantina dan Jakarta (tepatnya SICC di Sentul, Bogor) untuk malam final Miss World 2013 (okezone.com, 24/05/2013). Beauty with a Purpose, Babak Fast Track, Kategori Multimedia
Senada, pun dengan panitia dan para kontestan. Mereka jelas makin sibuk dengan persiapan. Terlebih dengan adanya penambahan klasifikasi penjurian dalam babak fast track, yaitu dari kategori multimedia. Seperti diketahui, biasanya untuk babak tersebut memang hanya ada lima yang dikompetisikan, yakni Beauty with a Purpose, Fashion, Talent, Sport, serta Top Model (okezone.com, 24/05/2013).
Fast track Multimedia merupakan terobosan baru yang dibuat oleh panitia Miss World 2013 di Indonesia. Melalui fast track ini, Liliana Tanoesoedibjo, Ketua Yayasan Miss Indonesia, berharap bisa memperkenalkan Indonesia ke mancanegara (www.cekricek.co.id, 25/05/2013a). “Fast track dari multimedia ini yang terbaru. Nantinya, setiap finalis akan meng-upload aktivitas yang mereka lalui di jejaring sosial. Mereka akan melakukan hal yang besar untuk Indonesia,” jelas Liliana. Tentu saja ini akan menjadi penentu penilaian dari setiap kontestan. Bahkan, Liliana menambahkan kalau kontestan yang paling aktif-lah yang akan mendapat nilai tertinggi. “Siapa yg sering meng-upload paling sering dan follower-nya banyak juga poinnya lebih tinggi,” imbuhnya. (okezone.com, 24/05/2013).
Kabarnya, Vania Larissa (Miss Indonesia 2013), wakil Indonesia di ajang Miss World nanti, mengincar tiga kategori fast track, yaitu Miss Talent, Top Model dan Multimedia. “Fast track yang diincar itu talent tentunya karena saya menyanyi seriosa. Tapi Top Model juga jadi salah satu incaran. Kemudian Multimedia juga karena bangsa Indonesia memiliki populasi yang besar,” terangnya (www.cekricek.co.id, 25/05/2013b).
Mutakhirnya jejaring sosial maupun laman video online, telah dengan mudah menjadikan kontestan Miss World cepat populer. Terlebih jika intensitas aktivasi akunnya sangat tinggi, bersiaplah untuk segera menjadi selebriti. Namun, bayangkan jika yang dipopulerkan di media itu sebuah ajang kemaksiatan. Bukankah justru kemaksiatan itu makin merajalela? Pasalnya, selain tahun 2013, Indonesia juga dipercaya akan menjadi tuan rumah Miss World berikutnya di tahun 2015 (http://www.citizenjurnalism.com/hot-topics/2013-indonesia-menjadi-tuan-rumah-miss-world/). Tak diragukan lagi.
Brain, Klaim atas Simbol Intelektualitas Peserta Miss World
Jadi makin jelas bukan, bahwa tak ada satu pun kategori penjurian kontes kecantikan semacam ini yang mengedepankan peningkatan taraf berpikir. Apalagi untuk menyelesaikan permasalahan umat, jauh panggang dari api. Semua kategorinya bicara popularitas atas nama kemampuan dan kelebihan fisik semata. Dan untuk jadi pintar, haruskah jadi cantik dulu? Jika ada perempuan yang (maaf) pincang, tapi ia ber-IPK 4,00 dan menjadi lulusan terbaik di perguruan tingginya, apakah ia akan lolos seleksi peserta Miss World?
Wow, konsep 3B dalam kontes ini jelas merupakan konsep dusta untuk membungkus Miss World dan semacamnya agar diterima masyarakat. Kita tentu bertanya-tanya, dalam kontes yang hanya dilakukan beberapa hari, bagaimanakah menilai kecerdasan, kecantikan, dan kepribadian? Yang dinilai hanyalah satu konsep saja, yakni kecantikan. Maka, mendukung ajang ini sama saja dengan melanggengkan penjualan tubuh perempuan. Jika untuk menjadi pintar seorang perempuan harus menjadi cantik dulu, maka betapa sulitnya menjalani kehidupan ini. Karena tidak setiap perempuan bisa ikut kontes Miss World.
Perempuan para peserta Miss World termasuk para perempuan yang menjadikan ide-ide kapitalistik sebagai pijakan. Mereka ‘dengan sadar’ berkontribusi mengajak kaum perempuan selainnya untuk terkooptasi pada ide-ide tersebut. Ironisnya, alih-alih mampu mengangkat nasib perempuan yang diklaim pintar, posisi mereka dalam sistem demokrasi-liberalistik-kapitalistik justru menjadi racun yang kian mengukuhkan kegagalan menyelesaikan persoalan-persoalan perempuan. Sebaliknya, ide-ide kapitalistik-sekular akan makin sukses menjerumuskan perempuan ke dalam jurang kejahiliahan dan kegelapan. Kegelapan ini tidak akan pernah beranjak dari umat secara keseluruhan selama umat Islam mencampakkan aturan-aturan Allah Swt dan Rasul-Nya.
Akhirnya, kehidupan kapitalistik pun merancukan pemikiran perempuan, bahwa untuk mendapatkan hak-haknya, perempuan harus cantik, pintar dan banyak uang. Peran sejati perempuan dikaburkan, disesatkan, dikacaukan bahkan dilenyapkan. Perempuan tak lagi menjadi istri mulia, ibu tangguh, perempuan pejuang. Kehidupan perempuan kembali menjadi hina karena sistem yang digunakan bukan sistem Islam, yang punya cara pandang berbeda 180 derajat dengan cara pandang Islam terhadap perempuan. Kapitalisme akan selalu menjadikan perempuan menjadi barang dagangan, alat promosi berbagai produk untuk menarik pembeli. Harus diakui, Miss World adalah salah satu alat promosi itu. Oleh karenanya, sayang sekali, padahal perempuan terpelajar seharusnya bisa berkiprah dan berkontribusi dalam kemashlahatan umat.
Perempuan Pintar: Takwa dan Visioner
Menuntut ilmu merupakan bagian dari aktivitas ibadah, sebagaimana firman Allah Swt dalam QS. Adz-Dzariyat ayat 56: “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” Dan Allah Swt telah menjamin orang-orang yang berilmu dalam Al-Qur’an: “…niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat…” (QS Al-Mujadilah [58]: 11). Juga firman Allah Swt: “…Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu…” (TQS Al-Hujuraat [49]: 13). Berdasarkan ayat-ayat tersebut, kepintaran adalah software baginya untuk menuju taqwa.
Selanjutnya, keterpelajaran kaum perempuan untuk kemashlahatan umat nyatanya hanya bisa dengan kebangkitan pemikiran, bukan dengan kontes Miss World. Bangkitnya manusia sejatinya tergantung dari pemikirannya tentang hidup, alam semesta dan manusia itu sendiri, serta hubungan ketiganya dengan sesuatu yang ada sebelum alam kehidupan dan sesudah kehidupan dunia. Sebab, pemikiranlah yang membentuk dan memperkuat persepsi (mafahim) terhadap segala sesuatu. Namun, persepsi ini tidak akan mengantarkan kepada kebangkitan yang benar, kecuali jika sesuai dengan fitrah manusia, memuaskan akal dan memberikan ketenangan hati. Maka tidak bisa tidak, persepsi itu hanyalah yang berlandaskan Islam, yang menjelaskan bahwa di balik alam semesta, manusia dan kehidupan, terdapat Allah Swt. Oleh karena itu, dalam perbuatan seorang hamba harus ada keyakinan akan hubungannya dengan Allah Swt secara mutlak sebagai bentuk ketaqwaannya.
Kegemilangan peradaban, sebagaimana yang pernah dicapai belasan abad oleh umat Islam terdahulu, tidak bisa dipisahkan dari keberhasilan peran para ibu. Panggung peradaban Islam tak hanya didominasi oleh laki-laki. Perempuan pun muncul untuk berkontribusi. Perempuan menjadi sosok yang memahami kemuliaan cahaya Islam dan tak kenal lelah mendidik umat untuk memahami cahaya petunjuk tersebut. Hal ini telah bermula sejak zaman Nabi Muhammad saw dan para shahabatnya saat merintis masyarakat berperadaban, yaitu peradaban yang menyatukan iman, ilmu, amal dan jihad. Inilah yang disebut oleh para ulama, “Orang Barat bisa maju karena meninggalkan agamanya, sedangkan kaum Muslimin hanya akan maju jika ia mendalami agamanya.” Wallaahu a’lam bish showab [].

Harry Tanoesoedibjo Terkejut Lihat Foto Panas Perwakilan Indonesia




Lima belas perwakilan Forum Umat Islam (FUI) bertemu dengan Bos MNC Group Harry Tanoesoedibjo. Dalam pertemuan tersebut FUI mendesak Harry Tanoesoedibjo untuk membatalkan gelaran Miss World yang tinggal menghitung hari.

FUI berasalan Miss World hanya akan merusak moral dan merendahkan derajat kaum wanita. Untuk memperkuat itu, FUI membawa foto-foto panas Artika Sari Devi saat mewakili Indonesia dalam Miss Universe 2005.

Lalu bagaimana respon Harry Tanoesoedibjo melihat fakta hitam dari kontes-kontes kecantikan tersebut? Menurut Sekjen FUI Muhammad Al Khathtath, Harry Tanoe terkejut mengetahui foto-foto telanjang Artika.

“Katanya dia belum pernah melihat foto-foto seperti. Lha belum pernah melihat kok bisa-bisanya MNC jadi panitia kontes Miss World,” imbuh Al Khathtath di depan kantor MNC, Selasa sore (3/9).

“Bohong, bohong,” pekik ratusan kader FPI tidak percaya atas pengakuan Cawapres Partai Hanura itu.

Harry Tanoe juga berujar jika dirinya tidak terlibat jauh dalam gelaran Miss World, tapi kebetulan saja dirinya menjadi Direktur Utama di MNC.

“Ya tapi kan, anda punya wewenang untuk membatalkan,” kata Al Khathtath.



"Tolak Miss World dengan Santun"





Massa simpatisan dari berbagai ormas Islam melakukan aksi menolak kontes Miss World di Bundaran HI, Jakarta, Selasa (3/9). (Republika/ Tahta Aidilla)
A+ | Reset | A-

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Gelombang gerakan penolakan ajang kecantikan Miss World terus berlanjut. Salah satu Ormas Islam tertua di Indonesia, AL Irsyad Al Islamiyyah, memaparkan cara-cara penolakan terhadap ajang ini harus dilakukan dengan cara yang santun.

Ketua umum AL Irsyad Al Islamiyyah Abdullah Al Jaidi mengatakan, pihaknya sepenuhnya menolak penyelenggaraan ajang yang banyak mudharatnya ini. “Namun lakukanlah dengan santun,” katanya.

Sebagai ormas yang besar, pihaknya perlu menunjukkan keprihatinan pada situasi dalam negeri. Untuk memberikan solusi pada situasi dalam negeri, seperti Miss World ini perlu pula menggandeng ormas-ormas Islam lainnya.

Ormas Islam, menurutnya, perlu berperan dan menunjukkan sikap yang tegas pada segala hal yang terjadi di dalam negeri. “Karena umat Islam di Indonesia ini menunggu acuan dari para tokoh Islam yang ada dalam ormas-ormas ini,” katanya.

Menanggapi penyelanggaraan ajang Miss World ini, menurutnya sebagai umat muslim jelas perlu menolak adanya gelaran acara seperti ini yang mengajarkan sikap permisif pada kemudharatan ini, namun tak perlu menolak dengan cara-cara yang kasar.

“Kita harus menunjukkan penolakan dengan santun, agar dunia tahu bawa umat Islam di Indonesia itu perilakunya santun,” ujarnya.

Kepedulian pada hal-hal yang menyangkut umat, memang perlu diekspresikan, bahkan perlu dipublikasikan. Untuk itu, harus dilakukan dengan santun dan cerdas. “Saran saya, langsung saja sampaikan pada pemerintah dan pihak berwenang agar tak memberikan ijin penyelenggaraan,” ujarnya.

Kepung MNC, Massa Umat Islam Mulai Padati Bundaran HI





RATUSAN Massa Forum Umat Islam (FUI) mulai berdatangan di Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta.

Ini adalah aksi pertama FUI untuk menggagalkan kontes Miss World yang rencananya akan diselenggarakan di Bali dan Bogor. Rencananya, 1000 umat Islam siap untuk mengepung kantor MNC.

Dakan orasinya, Bernard Abdul Jabbar dari FUI mengajak umat Islam untuk menggagalkan Miss World. Jika, Miss World tetap digelar, maka musibah akan menimpa bangsa Indonesia.

“Maka kita harus berjihad menolak Miss World,” katanya.

Hingga berita ini diturunkan, massa terus berdatangan. Setelah melakukan orasi di Bundaran HI, massa aksi akan melakukan longmarch menuju kantor MNC, Kebon Sirih Jakarta.

Mantan Anggota DPR: “Umat Islam Dipaksa Terima Miss World, Kita Siap Revolusi”





Mantan Anggota DPR Mashadi mengutuk keras penyelanggaran Miss World. Kegiatan ini dinilai acara biadab yang akan merusak Indonesia sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia. Dia mendesak pihak penyelenggara untuk segera membatalkan rencana menggelar kontes Miss World.

“Jika tidak, MNC, Harry Tanoe, istri dan pihak-pihak terkait harus bertanggungjawab atas kemarahan umat Islam,” ujarnya berapi-api pasca konsolidasi 10 ormas Islam terkait Miss World di Kantor HTI, Jakarta, Kamis (29/8).

Lebih lanjut pendiri Lembaga Dakwah Kemuliaan Islam (LDKI) ini menegaskan umat Islam jangan dipaksa untuk menelan tayangan haram. Dia mengultimatum Harry Tanoe sebagai non muslim untuk tidak macam-macam kepada umat Islam.

“Memaksa negara muslim seperti Indonesia untuk menggelar kontes Miss World sama saja menyuruh umat Islam memakan babi,” kata Ketua Forum Umat Islam periode 2000-an yang membawahi ratusan ormas Islam ini.

Dalam paparan terakhirnya, Mashadi kembali menekankan para panitia untuk bertanggung jawab atas keamanan di Indonesia.

“Kalau dia (Harry Tanoe) tetap memaksa, kita siap revolusi!” ancamnya.

Soal Pembatalan Miss World, Harry Tanoe: “Nanti Kita Bicarakan”





MESKI mendapat penolakan umat Islam, Harry Tanoesoedibjo mengaku belum akan membatalkan ajang Miss World. Hal itu dikatakannya saat menerima kedatangan perwakilan Forum Umat Islam (FUI).

“Saat kita minta batalkan, Harry Tanoe hanya bilang ‘nanti kita bicarakan,’” terang sekjen Forum Umat Islam (FUI) usai bertemu bos MNC Group di Kantor MNC, Kebon Sirih, Jakarta, Selasa sore (3/9/2013).

Al Khaththath mengaku dialog sempat memanas, karena Harry Tanoe enggan menjawab secara tuntas desakan umat Islam.

“Maka kita akan tetap kembali datang hari Jum’at ini untuk mendesak Harry Tanoe membatalkan Miss World,” sambungnya. (Pz/islampos)

Massa Umat Islam Tiba di Kantor MNC, Desak Bertemu Harry Tanoe




SETELAH melakukan longmarch dari Bundaran HI, ribuan massa Forum Umat Islam tiba di kantor MNC di Kebon Sirih, Jakarta. Massa datang tepat pukul 14.45 WIB.

Kedatangan massa umat Islam langsung disambut ratusan Polisi yang berjaga-jaga di depan kantor MNC. Bahkan puluhan polisi berdiri dengan memakai tameng depan pintu masuk dalam kantor MNC.

Sikap aparat keamanan tersebut langsung mengundang reaksi Sekjen FUI Muhammad Al Khaththath. Menurutnya, polisi sama saja melindungi Harry Tanoe sebagai otak dibalik ajang kemaksiatan.

“Sungguh anda sangat memalukan,” hardiknya.

MNC memberikan jatah 15 orang dari pihak umat Islam untuk menyampaikan aspirasinya. Namun, massa bersedia bertemu jika pihak MNC menghadirkan Harry Tanoesodibjo.

“Jika tidak ditemui Harry Tanoe, kami tidak mau masuk!” tandas Ketua DPD FPI Jawa Barat, Kyai Kohar

MUI Akan Keluarkan Pernyataan Resmi Terkait Miss World



SETELAH mengkaji secara utuh, Majelis Ulama Indonesia (MUI) akan mengeluarkan pernyataan resmi terkait acara Miss World. Secara umum, MUI menolak diadakannya ajang Miss World 2013 di Indonesia karena melanggar nilai moralitas dan mengandung unsur pornografi dan hedonisme.

Ketua MUI Bidang Luar Negeri, KH. Muhyiddin Junaedi, menjelaskan ajang Miss World 2013 memuat gaya hidup liberalisme dan sekularisme. Sedangkan MUI sudah mengeluarkan Fatwa Haram Sekularisme dan Liberalisme pada tahun 2005.

“Insya Allah sikap MUI tidak akan berubah (menolak Miss World),” katanya saat berbincang dengan Islampos.com, Kamis lalu.

Ditanya kapankah MUI akan mengeluarkan rilis resmi, KH Muhyiddin menegaskan pernyataan itu akan keluar dalam waktu dekat karena pemerintah sendiri masih gamang untuk menentukan sikapnya terhadap ajang Miss Wolrd 2013.

“Saya sudah SMS-an dengan gubernur Jawa Barat, dan Gubernur mengaku belum ada permintaan resmi dari panitia,” tandasnya.

MUI Khawatir Negara Muslim Akan Ikuti Indonesia Jika Gelar Miss World



MAJELIS Ulama Indonesia (MUI) tetap menolak keinginan panitia menggelar Miss World 2013 di Indonesia. Pasalnya, Indonesia sebagai negara muslim terbesar di dunia tidak pantas menggelar Miss World.

“Suara Indonesia sangat di dengar (negara muslim), apabila Indonesia mengadakan Miss World, khawatir negara muslim lainnya akan mengikuti langkah kita,” ujar Ketua MUI Bidang Luar Negeri, KH. Muhyiddin Junaedi saat berbincang dengan Islampos.com, Kamis lalu di Kantor PP Muhammadiyah, Jakarta.

Dia menambahkan, seharusnya Indonesia menolak digelarnya Miss World, karena kontes ratu kecantikan itu bertentangan dengan sejumlah Undang-Undang di Indonesia.

“Kita sudah punya UU Pornografi, ajang Miss World adalah bagian dari propaganda hidup hedonisme,” tegasnya.

Alumni Gontor itu juga menampik pernyataan panitia yang akan menampilkan ajang Miss World 2013 dengan menyesuaikan dengan budaya Indonesia. Sebab, belum ada sejarahnya gelaran Miss Wolrd meninggalkan konten pornografi dalam tiap aksinya.

“Pasti ada konten pornografi, kita sudah tahu Miss World itu sepeti apa. Ujung-ujunganya mereka yang jadi pemenang Miss World mengadopsi (gaya) hidup bebas. Apakah itu yang kita inginkan?” tegasnya.

Ulama Malaysia Larang Gadis Muslim Ikut Miss World





ULAMA Malyasia Che Mat Che Ali menginformasikan bahwa gadis-gadis Muslim tidak akan diizinkan untuk ikut ambil bagian dalam kontes kecantikan itu. Larangan itu berangkat dari putusan fatwa ulama Malaysia.

Menurut Organizer Miss World untuk Malaysia Datuk Lim Anna menyatakan bahwa Che Mat sudah memanggilnya untuk menjelaskan bagaimana fatwa sedang ditegakkan dan sudah dilaksanakan, dan bahwa tidak ada perubahan soal itu.

“Keempat gadis yang akan ikut kecewa, sementara kontestan lain bahagia dan berseri-seri dan telah memulai program mereka sebagai utusan Malaysia di ajang Miss World,” tambahnya.

“Menyedihkan memang anak-anak itu tidak dapat berpartisipasi. Mereka itu cantik dan memiliki banyak atribut yang tepat,” kata Lim.

Tanggapan para kontestan Miss World dari Malaysia? Sara Amelia Bernard, salah satu finalis yang didiskualifikasi mengatakan dia menerima keputusan itu.

“Saya kecewa tentu saja. Tapi sisi baiknya adalah bahwa saya bisa datang dan memberikan dukungan moral kepada teman-teman saya. Salah satu dari mereka mungkin bisa menjadi Miss World yang baru,” kata Sara.

Dia juga mengatakan dia harus menonaktifkan akun Facebook-nya karena banyaknya komentar negative terhadapnya.

Kepung MNC, Massa Umat Islam Mulai Padati Bundaran HI






RATUSAN Massa Forum Umat Islam (FUI) mulai berdatangan di Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta.

Ini adalah aksi pertama FUI untuk menggagalkan kontes Miss World yang rencananya akan diselenggarakan di Bali dan Bogor. Rencananya, 1000 umat Islam siap untuk mengepung kantor MNC.

Dakan orasinya, Bernard Abdul Jabbar dari FUI mengajak umat Islam untuk menggagalkan Miss World. Jika, Miss World tetap digelar, maka musibah akan menimpa bangsa Indonesia.

“Maka kita harus berjihad menolak Miss World,” katanya.

Hingga berita ini diturunkan, massa terus berdatangan. Setelah melakukan orasi di Bundaran HI, massa aksi akan melakukan longmarch menuju kantor MNC, Kebon Sirih Jakarta.

Miss World Tetap Digelar, Taruna Muslim Ancam Bakar SICC


KETUA Taruna Muslim, Alfian Tanjung meminta umat Islam untuk mempersiapkan diri dalam puncak jihad menggagalkan Miss World pada tanggal 28 Septemper.

Hari itu adalah puncak pelaksanaan Miss World yang akan dilaksanakan di Sentul International Convention Centre (SICC).

Alfian menegaskan, jika Harry Tanoe tetap memaksa, maka dirinya siap bersama umat Islam untuk membakar SICC.

“ini bukan retorika, ini adalah langkah serius karena panitia sudah tidak lagi mau mengikuti KUHP,” tegasnya dalam orasi bersama mass FUI di depan Bundaran HI, Jakarta.

Untuk itu, Alfian meminta umat Islam, mujahidin, dan aktivis Islam untuk memelihara nafas panjang. Jangan pernah menyerah dan terus berjuang agar generasi bangsa tidak menjadi korban.

Mantan aktifis Pelajar Islam Indonesia (PII) ini juga mengecam arogansi Harry Tanoe. Sebagai pengusaha kaya, Alfian minta politikus Hanura itu tidak sombong.

Meski panitia sudah mengerahkan media untuk mendukung Miss World, umat Islam pantang menyerah dan tidak akan pernah gentar.

“Wahai Harry Tanoe jangan belagu, mentang-mentang lo punya duit banyak bisa berbuat seenaknya,” tegasnya dalam logat Betawi.

Senin, 02 September 2013

Miss World, Bentuk Pemaksaan Budaya Barat



Penolakan harus disampaikan dengan hikmah atau bijak.

JAKARTA -- Miss World murni muncul dari tradisi Barat. Karena itu, hendaknya masyarakat Muslim memahami kontes kecantikan itu tidak terlepas dari budaya Barat yang memamerkan aurat.

Wakil Rektor Institut Studi Islam Darussalam Gontor Dr Hamid Fahmy Zarkasyi menggelengkan kepala saat mengingat bagaimana Barat memberlakukan penyekakan terhadap tata berpakaian Muslimah.

Misalnya, Jerman dan Prancis tidak memperbolehkan Muslimah berjilbab saat masuk kantor. Negara-negara Barat lainnya masih ada yang intoleran terhadap jilbab.

“Sementara itu, kita diminta toleran terhadap Miss World yang memamerkan aurat di hadapan seluruh masyarakat dunia,” kata Hamid kepada Republika, Selasa (26/8).

Memang, menurutnya, ada aspek menggali kecerdasan wanita. Namun demikian, tetap saja tubuh dianggap sebagai keindahan untuk dipamerkan.

Sedangkan, Islam mengajarkan umatnya untuk menutup aurat. Hamid kemudian memaparkan, sah-sah saja jika kemudian umat Islam menolak penampilan dan kegiatan ini.

Penolakan harus disampaikan dengan hikmah atau bijak. Argumentasi berkaitan dengan bahaya ajang ini bagi kearifan lokal bangsa perlu disampaikan. Kemudian, harus ditunjukkan bahwa budaya Indonesia bertentangan dengan kegiatan tersebut.

Ada nilai kesantunan dan kesopanan yang harus dijunjung tinggi. Belum lagi nilai agama yang menjadi pegangan sekaligus pandangan hidup masyarakat Indonesia. “Banyak aspek yang mengarahkan perhelatan ini bermudharat,” ujarnya.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan pernyataan yang menolak penyelenggaraan ajang pemilihan Miss Word di Indonesia. Namun, MUI tidak bisa berbuat apa-apa seandainya kontes tetap berlangsung.

Beberapa bulan yang lalu, organisasi-organisasi massa berbasis Islam mengadakan aksi unjuk rasa menolak penyelenggaraan Miss World di Bogor.

Guru Besar Hukum Islam IAIN Raden Patah, Palembang, Prof Ramli Said Ali menyatakan penampilan dan kegiatan ratu sejagad atau Miss World dan sejenisnya haram. “Termasuk, Abang None atau kontes apa pun yang memamerkan aurat itu dilarang,” katanya.

Memang, dia menjelaskan, ada saja aspek positifnya, seperti mempererat hubungan negara-negara. Kemudian, bisa juga memasyhurkan nama Indonesia di dunia internasional. Namun, menurutnya, aspek aurat harus tetap diperhatikan.

Kegiatan ini dinilainya akan semakin bagus bila yang ditonjolkan adalah aspek kecerdasan. Kemampuan penguasaan bahasa asing, misalkan.

Belum lagi keterlibatan dalam kegiatan sosial. Ditambah lagi dengan kemampuan berorasi. “Aspek kecerdasan semacam itu akan sangat bagus bila ditonjolkan. Jadi, bukan kecantikan yang jadi patokan,” kata Ramli.

Para kontestan Miss World ke-63 akan berada di Bali selama kurang lebih tiga pekan sebelum malam puncak yang dilaksanakan di Sentul, Bogor, Jawa Barat, pada 28 September.

Beberapa bulan yang lalu, organisasi-organisasi massa berbasis Islam mengadakan aksi unjuk rasa menolak penyelenggaraan Miss World di Bogor.

Bagaimanapun, pihak penyelenggara sudah melakukan berbagai diskusi, termasuk dengan MUI. Indonesia akan menjadi ajang kontes buka aurat, padahal Indonesia merupakan negara mayoritas penduduk Muslim.

Minggu, 01 September 2013

"Miss World tak Perhatikan Aspirasi Warga"


Penobatan Miss World 2012, gelar yang dimenangkan kontestan dari Cina.
Penobatan Miss World 2012, gelar yang dimenangkan kontestan dari Cina.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Penyelenggaraan Miss World 2013 di Indonesia dipandang tidak memperhatikan suara rakyat Indonesia.
Ketua PP Aisyah Siti Noordjanah Djohantini mengatakan, pihaknya secara tegas menolak penyelenggaraan ajang ini. Disamping itu, MUI dan lembaga Islam lain juga turut menolak ajang ini diselenggarakan di Indonesia.
"Kalau ini negara demokrasi, suara-suara ini penting didengarkan," ujar Siti kepada Republika, Rabu (28/8). PP Aisyah memandang memberi apreasiasi kepada perempuan tidak tepat dilakukan dengan ajang Miss World. Perempuan justru akan dijunjung tinggi jika program yang dilakukan memberikan dampak positif langsung.
Siti juga melihat pelaksanaan ajang itu tidak tepat digelar saat ini ditengah berbagai permasalahan bangsa. "IPM kita terpuruk, kemiskinan, kesehatan dan pendidikan kepada perempuan lebih utama," ujarnya. Terlebih, secara Islam sudah jelas mengumbar aurat terlarang bagi Muslimah.
Ketua PP Fatayat NU Ida Fauziyah menanggapi wajar muncul pro kontra penyelenggaraan Miss World di Indonesia. Bagi yang tegas, ajang ini jelas dilarang. Namun bagi yang moderat bukan berarti ajang ini bebas dilaksanakan. "Ada hal-hal yang harus benar-benar diperhatikan jika terpaksa digelar," ungkapnya.
Penyelenggaraan Miss World 2013 harus memperhatikan kultur dan budaya Indonesia. Ida menyebut berbicara budaya, didalamnya tercakup Islam yang sudah mendarah daging pada diri warga Indonesia.
Panitia juga tak boleh begitu saja melupakan mayoritas masyarakat Indonesia beragama Islam. "Wajib hukumnya penyelenggara memperhatikan budaya ini," ungkap Ida.

Antara Miss World, Budaya dan Buya Hamka


mw Antara Miss World, Budaya dan Buya Hamka
Oleh : Beggy – Pegiat JIB (Jejak Islam untuk Bangsa)
“Yang Pindah agama itu telah banyak, tetapi lebih banyak lagi yang lepas lolos dari ikatan Islam, tersapu habis pandangan dan cinta Islam dari dalam hatinya.”-Buya Hamka.
Penyelenggaraan Miss World tahun 2013, yang sebentar lagi akan berlangsung nampaknya akan terus melaju. Meskipun penyelenggaraan itu menuai kecaman dari umat Islam di Indonesia. Pendapat kontra sudah kita sering dengar gaungnya, mulai dari umbar aurat, pelecehan terhadap martabat perempuan hingga bau kapitalisasi perempuan. Bahkan sejarah mencatat di Amerika Serikat sana pun, penyelenggaraan Miss America telah dikecam puluhan tahun silam oleh pegiat feminis.[1]
Miss World yang akan singgah dalam tanah air kita ini sebetulnya bukan barang baru. Kecaman ulama terhadap kontes-kontes semacam ini juga bukan sesuatu aneh dikolong langit nusantara. Ulama besar Buya Hamka pernah mengecam kontes semacam ini. Ia bertutur,
“Orang-orang perempuan maju kemuka berlomba merebut kehidupan, sehingga alat-alat penghias diri, alat-alat kecantikan lebih melebihi mahalnya. Kemudian muncullah lomba kecantikan,memperagakan diri, lomba ratu-ratuan. Perempuan muda yang cantik tampil ke muka mendedahkan (memamerkan) dada, pinggul, dan pahanya,di tonton bersama dan diputuskan oleh juri siapa yang lebih cantik tampil ke muka mendedahkan. Maka ratu-ratu kecantikan itu jangan sampai menurun. Dan ini pun menghendaki perbelanjaan banyak dan mewah. Macam-macam nama yang diberi bagi ratu-ratu itu; Ratu Personality, Ratu luwes, Ratu daerah, Ratu Propinsi, Ratu Nasional, dan Ratu internasional.”[2]
Tepat sekali ucapan Buya Hamka. Miss World hanyalah satu dari sekian banyak ajang eksploitasi perempuan. Kontes semacam ini hanya berganti-ganti kulitnya. Beribu nama bisa tercetus, namun esensinya tetap sama. Bahkan pencitraan perempuan dengan mitos-mitos tertentu tentang kecantikan, sudah membanjiri pikiran terdalam kita. Melalui, iklan, sinetron, dan lainnya. Lebih mengenaskannya lagi, mulai dari penyelenggara, peserta hingga penikmatnya adalah orang Islam itu sendiri.
Salah satu akar dari kerusakan ini adalah lenyapnya pengetahuan di masyarakat akan kedudukan perempuan dalam Islam. Orang Islam tak lagi memahami kedudukan perempuan dalam agama mereka, sehingga mereka mengamini tatkala ajang seperti Miss World disebut promosi kebudayaan, ekspresi wanita atau lebih mengenaskan lagi penghargaan pada perempuan.
Sebagian orang Islam saat ini sampai meraba-raba dalam kegelapan pengetahuan, bagaimana cara menghargai perempuan. Sehingga jebakan Kontes ratu-ratuan hingga mitos kecantikan dijadikan pegangan. Sementara kedudukan perempuan yang telah digariskan Islam digugat dan diseret ke muka umum. Diskriminasi dijadikan senapan untuk membidik ajaran Islam.  Orang Islam yang hendak mencari penghargaan diluar Islam, sejatinya tak paham bahwa mereka makin terperosok jauh ke dalam lembah kerancuan.
Hendaklah kita resapi nasehat dari Buya Hamka tatkala berbicara penghargaan perempuan dalam Islam. Menurutnya,
 “Mereka (perempuan) dipandang sebagai bagian yang sama pentingnya dengan laki-laki dalam memikul tanggung jawab beragama, mengokohkan aqidah dan ibadat, sehingga timbullah harga diri yang setinggi-tingginya pada mereka, timbul ilham perjuangan.”[3]
Ketidakpahaman juga seringkali dialamatkan kepada pembagian tugas laki-laki (suami) dan perempuan (istri).  Ajaran Islam mengenai pembagian tugas kepada istri sebagai pemelihara rumah tangga dianggap rantai yang membelenggu. Dihakimi ramai-ramai dalam tuduhan diskriminasi. Insyaflah kita ketika dalam hal ini ketika mengingat keterangan Buya Hamka,
“Hanya perempuan yang kurang sehat jiwanyalah yang akan ingkar pada pembagian tugas seperti ini. Atau perempuan yang gagal di dalam rumah tangga lalu dia ‘kasak-kusuk’ menontonkan diri keluar minta persamaan hak dengan laki-laki, namun dia tak kenal lagi di mana batas hak itu.”[4]
Perihal pembagian peranan dalam rumah tangga, Buya Hamka mengingatkan, “Pengorbanan! Itulah yang selalu diminta dari kedua belah pihak. Yang laki-laki sampai putih rambut di kepala, mencarikan keperluan rumah tangga. Yang perempuan habis; tenaga, memelihara rumah tangga, menyelenggarakan suami, mendidik anak-anak. Keduanya sama-sama berkurban!”[5]
Seandainya saja kita semua sebagai umat Islam memahami kedudukan perempuan dalam Islam, niscaya kita tidak akan tertipu dalam kemasan kosong kontes ratu-ratuan atau pencitraan rapuh tentang perempuan. Namun tantangan tak berhenti di situ. Kontes ratu-ratuan ala Miss World juga menggunakan promosi kebudayaan sebagai topeng. Kita yang menentang Miss World mungkin akan  dianggap tak berbudaya atau anti budaya. Batin ini tentu bertanya-tanya, kebudayaan macam apa yang hendak diusung Miss World?
Umat Islam di Indonesia sudah seringkali disudutkan dan dibenturkan dengan persoalan budaya. Umat semakin terjerembab ketika tak mampu untuk menafsirkan, kebudayaan apa yang sesuai dengan Islam di Indonesia ini? Padahal hanya dengan memahami hakekat budaya itu sendiri umat Islam akan mampu menepis beragam gelombang tantangan budaya ini.
Salah satu usaha menafsirkan kebudayaan ini juga datang puluhan tahun yang silam oleh Buya Hamka. Menurut Buya Hamka penting bagi generasi muda Islam untuk memperdalam pengetahuan ajaran Islam dan mempelajari sejarah umatnya di Indonesia dan diluarnya,
“…sehingga dia insyaf bahwa kebudayaan Islam itu universil sifatnya. Dan kebudayaan yang universil itulah tujuan terakhir dunia di zaman ini. Dan Nasionalisme sempit, tidaklah panjang usianya.”[6]
Budayawan Islam diingatkan Buya Hamka untuk kembali mengambil bagian dalam perkembangan kebudayaan, serta melakukan risalah-nya (tugasnya) yang suci itu untuk mengisi kebudayaan dunia. Karena terlihat di Indonesia -mengutip istilah Buya Hamka- ‘gejala pancaroba kebudayaan.’ Seperti budaya materialistis, kebudayaan menuhankan manusia. Kebudayaan yang tak lagi melihat manfaat dan mudharat, yang tak kenal lagi halal dan haram. Umat Islam hendaknya jeli untuk menafsirkan dan mewarnai kebudayaan, karena ada berbagai upaya untuk memasukkan agama menjadi bagian dari budaya. Padahal budaya adalah hasi kegiatan manusia. Sedangkan agama adalah wahyu.
Budaya atau kebudayaan dapat dipahami sebagai usaha dan hasil usaha-usaha manusia menyelesaikan kehendaknya buat hidup dengan alam yang ada di kelilingnya. [7] Menurut Buya Hamka semua manusia yang berakal-budi adalah berbudaya, sebab budaya adalah hasil akal budi yang dipengaruhi ruang dan waktu, serta masyarakat yang mengelilinginya. Maka bagi Islam, kebudayaan haruslah diterangi oleh iman.
“Maka adalah iman sebagai pemberi cahaya bagi akal budi dan daya-upaya dalam hidup, hendaklah menjadi amalnya yang saleh!”, terang Buya Hamka.[8]
Ketika dalam masyarakat telah dipahami bahwa kebudayaan terdiri dari tiga hal, pengetahuan, filsafat dan seni, maka hal-hal itu perlu diterangi cahaya Iman. Buya Hamka kembali mengingatkan, “Islam mengajarkan bahwasanya di dalam mencari ilmu pengetahuan,atau filsafat atau seni, satu hal perlu diingat. Yaitu betapa nilainya bagi jiwa. “ Kemudian beliau melanjutkan, “…Disamping mencari yang benar dan mengelakkan yang salah, atau mencari yang baik dan menjauhi yang jahat, haruslah diperhatikan yang manfaat dan yang mudharat itu.”[9]
Dan sejarah telah mencatat, baik di dunia dan di Indonesia, cahaya Islam telah menerangi berbagai aspek kebudayaan. Islam-lah yang memberi kita budaya yang lebih beradab. Islamlah yang memberikan pakaian keindahan. Memakaikan pakaian dan menutupkan aurat bagi orang-orang yang sebelumnya telanjang. Islam pula yang mewarnai bahasa lisan dan tulisan di nusantara dengan huruf arab-jawi atau huruf Pegon. Sebelum semuanya dilindas secara tragis oleh huruf latin yang dibawa oleh penjajah. Terlebih dalam bahasa, Bahasa Indonesia demikian jernih terlihat diwarnai oleh bahasa melayu yang diterangi kosa-kata berjiwa islam, seperti adil, wilayah, hikmah, dan lainnya. Karya sastra klasik juga diwarnai jiwa Islam, baik oleh Raja Ali Haji atau Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi. Betapa banyak hikayat dan syair berjiwa jihad yang membakar semangat perang melawan penjajah. Sebut Hikayat Perang Sabi dari tanah Aceh sebagai salah satu contohnya.[10]
Bahkan menurut Buya Hamka, “Hindu telah meninggalkan pusaka berupa candi-candi yang sekarang dijadikan barang antik bernilai sejarah, untuk opbyek turis, untuk mencari riwayat lama pada batu-batu. Tetapi Islam telah meninggalkan Mesjid yang hidup setiap hari dan ramai setiap Jumat.”[11]
Tak heran jika kita sebagai muslim patut berbangga dengan Islam yang telah mewarnai kebudayaan Indonesia. Dan tak patut kita merasa rendah diri dengan Islam jika berbicara kebudayaan, sedang Buya Hamka berani dengan lantang berkata,
“Dengan tegas dan berani mempertanggung-jawabkan, dapatlah saya katakan bahwa modal yang diberikan Islam yang paling terbanyak, yang diberikan untuk membangun kebudayaan Indonesia.[12]
Kebudayaan ibarat air sungai yang mengalir, ia memberi dan menerima. Sudah menjadi tanggung jawab kita mengaliri air itu dengan kejernihan Tauhid Islam. Dan salah satu cara memandang kebudayaan adalah dengan meresapi nasehat dari Buya Hamka perihal kebudayaan ini,
“Hendaklah angkatan Muda Islam memperdalam pengetahuan dan pengertian ajaran Islam, dituruti dengan amal, sehingga menjadi pandangan hidup yang sebenarnya, dan dapat membanding ‘mana yang punya kita dan mana yang kepunyaan orang lain’.”[13]
Racun pembunuh bangsa bernama Miss World ini hanyalah satu dari sekian banyak kerusakan yang hendak disuntikkan perlahan kepada generasi kita dan penerus kita. Ketika penyelenggara Miss World sesumbar berkata mendompleng kuda troya Kebudayaan, maka kita dapat bertanya lantang, kebudayaan mana yang hendak mereka maksud? Medan perjuangan begitu lapang terbentang, termasuk dalam bidang budaya. Dan seperti hendak Buya Hamka pesankan,
“Modal menghadapi perjuangan kebudayaan masih amat terbatas dan kerdil, sebab itu maka, ‘dengan kail panjang sejengkal, tidaklah ada daya upaya menduga lautan’.”[14]