Tampilkan postingan dengan label Islam Mancanegara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Islam Mancanegara. Tampilkan semua postingan

Kamis, 05 September 2013

Tak Lagi Sulit Temukan Masjid dan Muslim di Meksiko City


Masjid Dar Al Islam merupakan salah satu masjid di Meksiko.
Masjid Dar Al Islam merupakan salah satu masjid di Meksiko.
Dunia Islam, MEKSIKO CITY -- Dua dekade lalu, sulit mencari masjid di Meksiko City. Kini, masalah itu tidak ada lagi.
"Jumlah masjid berkembang cepat," kata Louahabi, salah satu imigran asal Meksiko seperti dikutip onislam, Kamis (1/8).
Dua dekade lalu, Louahabi dan Muslim lainnya mengaku sulit menemukan masjid. Walhasil mereka terpaksa shalat di rumah.  Mereka juga kesulitan bertemu satu dengan yang lain.
"Pertama kali tiba, yang saya lakukan adalah mencari masjid dan Muslim," ujar dia yang kini mengajar bahasa Inggris.
Louhabi kala itu hanya bertemu sekitar 80 orang Muslim. Pertemuan itu terjadi di kedutaan besar Pakistan. Kini, banyak hal yang berubah. Louhabi tidak hanya bertemu Muslim Pakistan saja tetapi Muslim dari berbagai negara termasuk Muslim Meksiko sendiri.
Saat ini, Louahabi tengah berkumpul bersama Muslim lainnya di Islamic Center di Anzures, kawasan kalangan atas Meksiko. Di sini, Islamic Center menggelar banyak kegiatan termasuk kunjungan kalangan non-Muslim yang ingin mencari tahu informasi tentang Islam dan Muslim.
"Saya kira ini merupakan hikmah dari apa yang kita alami. Tragedi 9/11. Tragedi itu membuat masyarakat Meksiko mencari tahu apakah Islam dan Muslim benar-benar teroris," kata dia.
Alexander Huttanos, yang telah menjadi Muslim, Ahmed Abbas menilai tragedi 9/11 membuat masyarakat Meksiki mencari informasi tentang Islam dan Muslim di internet dan perpustakaan. "Islam mulai dikenal di Meksiko," ujarnya.
Omar Remy, mualaf lainnya perkembangan teknologi informasi telah banyak membantu membuat dunia lebih mengenal Islam. "Sangat membantu, karena memungkinkan banyak orang berkomunikasi dan menyelidiki Islam dan Muslim," kata dia.
Pakar Hubungan Internasional, Institur Teknologi Monterrey, Zdane Zeraoul Al-Awad menilai Islam tumbuh pesat lantaran keterbukaan informasi tentang Islam dan Muslim.

50 Tahun Sumbangsih ISNA Bagi Muslim AS


Muslim AS dalam sebuah kegiatan di Masjid
Muslim AS dalam sebuah kegiatan di Masjid

Dunia Islam, WASHINGTON -- Seabad sudah Masyarakat Islam Amerika Utara (ISNA) hadir ditengah Muslim Amerika Serikat (AS). Banyak hal yang telah dilakukan organisasi ini bagi komunitas Muslim dan masyarakat AS.
Sebagai peringatan seabad ISNA akan diselenggarakan konvensi tahunan 30 Agustus-2 September 2013 di Washington, Jumat (30/8). Konvensi itu akan mengambil tema Envisioning a More Perfect Union: Building the Beloved Community (Membayangkan Persatuan yang Sempurna : Membangun Komunitas yang Baik).
"Panitia telah mengumpulkan tim sukarelawan guna berbagi pengalaman dengan peserta," kata Direktur Departemen Konvensi ISNA, Basharat Saleem seperti dikutip Onislam.
Tema konvensi diambil dari ayat Alquran 59:13 yang intinya perlu ada upaya membangun komunitas bersatu. Ini yang kemudian sesuai dengan apa yang dimimpikan oleh Presiden Abraham Lincoln sekitar 150 tahun lalu.
Nantinya, dalam konvensi itu akan digelar sejumlah acara seperti pameran seni, festival film Islam, pameran kesehatan, fotografi, dan lainnya. Lebih dari 200 pembicara dari berbagai kalangan seperti ulama, tokoh masyarakat dan tokoh nasional.
Konvensi tahunan ISNA pertama kali digelar 1963 atas prakarsa Asosiasi Muslim Amerika dan Kanada. Selama bertahun-tahun digelar, konvensi ini telah menarik puluhan ribu Muslim Amerika.

Muslim New York Merasa Dikhianati NYPD


Muslim New York (ilustrasi)
Muslim New York (ilustrasi)
Dunia Islam,NEW YORK -- Muslim New York merasa dikhianati Kepolisian New York ketika intitusi itu menyebut masjid sebagai organisasi teroris. Padahal selama ini Muslim New York begitu koperatif dan aktif dalam penanggulangan masalah terorisme.

"Ketika kami mengundang komisari polisi Ray Kelly dan timnya memasuki masjid. Mereka seperti masuk dari pintu belakang," kata Linda Sarsour, anggota Asosiasi Arab-Amerika, dengan nada kecewa seperti dikutip Onislam.net, Jumat (30/8).

Kekecewaan tampak sekali dalam raut wajah Sarsour. Ia tak menyangka komunitas Muslim dikecewakan oleh pihak yang selama ini dipercaya. "Kami terlalu jenuh dengan pelanggaran hak-hak sipil Muslim New York," katanya.

Sarsour menyayangkan setiap usaha yang dilakukan umat Islam seolah tidak memiliki pengaruh apapun terhadap pandangan kepolisian New York.  "Kami banyak menjalankan aktivitas yang mungkin tidak dilakukan pemerintah. Kami membantu siapapun di New York, sudah seharusnya kami dapat apresiasi," katanya.

Presiden Asosiasi Arab-Amerika, Ahmed Jaber menilai sedari awal Muslim New York telah terbuka dengan usaha NYPD menanggulangi masalah terorisme. Nyatanya, Muslim New York malah menjadi sasaran.

Sebelumnya, Departemen Kepolisian New York (NYPD) memberi label masjid sebagai organisasi teroris. Hal itu membuat polisi diizinkan untuk menyadap pembicaraan dan memata-matai imam meski tanpa bukti adanya kriminal.

Sejak serangan 11 September, NYPD membuka puluhan investigasi terorisme dalam masjid. Dengan menyebut masjid sebagai organisasi teroris maka setiap orang yang masuk masjid untuk ibadah berpotensi menjadi sasaran investigasi dan dimata-matai.

Program itu berjalan sudah bertahun-tahun lamanya. Program mata-mata itu tetap berlanjut meskipun tidak ada tindakan terorisme yang dilakukan.NYPD belum pernah membuat dakwaan sebuah masjid atau organisasi Islam mengoperasikan organisasi terorisme. Dalam laporan Arabnews, Rabu (28/8), NYPD menolak memberikan komentar atas program tersebu

Alhamdulillah, Dagestan Izinkan Pelajar Muslimah Kenakan Jilbab


Peta Dagestan.
Peta Dagestan.

  MAKHACHKALA -- Pelajar Muslimah di Dagestan, Utara Kauskasus kini bisa bernafas lega. Larangan mengenakan jilbab dicabut setelah sempat diberlakukan.

"Pemerintah Dagestan telah membuat aturan soal ini. Para pelajar akan mengenakan seragam nasional dengan opsi pembolehan penggunaan jilbab," kata juru bicara Kementerian Pendidikan Dagestan, seperti dikutip Ria Novosti, Rabu (3/9).

Aturan ini diberlakukan butuh perdebatan panjang. Akhirnya, awal September ini, pemerintah sepakat mencabut aturan yang merujuk pada arahan Moscow.

Di Dagestan, pada September tahun lau, larangan berjilbab diberlakukan. Selanjutnya mulai bermunculan keluhan dari kalangan Muslim. Pada April 2013, mahasiswa Krasnoyarsk State Medical University protes karena kampus mereka melarang penggunaan jilbab. Lalu, seorang pelajar diusir lantaran mengenakan jilbab

Alhamdulillah, Muslim Denmark Miliki Menara Masjid Pertama

islam
Islam berkibar di Denmark.

Islam berkibar di Denmark., Umat Islam di Denmark, sedang berbahagia. Impian mereka untuk memiliki menara masjid  sebentar lagi terwujud.

Masjid yang terletak di distrik Nordvest Kopenhagen ini, akan dilengkapi sebuah menara namun belum dilengkapi dengan pengeras suara untuk mengumandangkan adzan. Hukum di negara ini belum membolehkan adanya sebuah menara yang digunakan sebagai tempat pengeras azan.

adi menara setinggi 20 meter ini baru menjadi simbol eksistensi adanya sebuah masjid dan umat muslim yang menggunakannya di Denmark.

Menara ini berada di dalam kompleks masjid yang luasnya 6800 meter persegi di Rovsingsgade. Masjid ini merupakan masjid yang pertama kali terlihat nyata di Denmark dana akan menjadi yang terbesar di daratan Skandinavia.

Juru bicara Dansk Islamisk Rad, Mohamed Al Minouni, mengatakan ini adalah momen penting bagi umat muslim di Denmark. “Pendirian menara ini merupakan momen yang besar penuh bahagis bagi umat muslim disini,” katanya, dilansir dari Copenhagenpost. Dansk Islamisk Rad sendiri merupakan organisasi yang bertanggung jawab membangun masjid, yang telah memiliki anggota sebanyak 25 ribu orang.

Menara ini akan selesai dan diresmikan dalam beberapa bulan ke depan. “Ini adalah wujud dari mimpi kami,” katanya.

Untuk dananya, masjid ini telah menerima150 juta kroner, dari seorang mantan penguasa Qatar, yaitu Hamad bin Khalifa al-Thani. Dari sinilah muncul banyak kekhawatiran jika nantinya masjid ini akan mendukung pandangan islam yang konservatif.
Imam yang memimpin masjid ini, Jehad Al Farra (53 tahun) pun mempunyai hubungan dengan organisasi massa Ikhwanul Muslimin. Ia mengatakan beberapa bulan yang lalu, ketika ia sedang berkegiatan dalam organisasinya, untuk menciptakan sebuah komunitas tunggal islam yang mengglobal, yang menuai banyak kritikan karena mengikuti hukum syariah.
Di saat itu, organisasi yang menjalankan kewenangan masjid, merangkul beberapa aliran Islam lainnya.

Sabtu, 31 Agustus 2013

Akademisi: Saatnya Eropa Diskusi dengan Warga Muslim

Muslim Eropa/ilustrasi

Muslim Eropa/ilustrasi
Dunia Islam, LONDON -- Akademisi dari Universitas di Jerman menegaskan, sudah saatnya masyarakat Eropa berdiskusi dengan masyarakat muslim dengan mengunakan pendekatan teologi dan bukan sekularisme. Hal itu diungkapkan Prof Dr Christine Schirrmacher, dari Universitas Bonn dan Universitas Leuven.

Dia mengungkapkan pendapatnya dalam konferensi yang diadakan di Goethe Institute Brussel. Menurutnya, bila ada pendapat agar masyarakat muslim di Eropa harus berubah menjadi seperti Europeans, hal itu terkesan arogan.

Pembicara dalam konferensi tersebut Prof Dr Michael Kohler dari Komisi Eropa, Malika Hamidi (General Manager dari European Muslim Network), dan bertindak sebagai moderator yaitu Dr Christian Gsodann dari Committee of the Regions.

Malika Hamidi menilai bahwa Eropa hanya selalu menyoroti sisi negatif muslim di Eropa. "Sudah saatnya masyarakat Eropa melihat bahwa kontribusi Muslim di Eropa nyata dan signifikan," ujarnya, seperti dilaporkan Antara, Jumat (1/3).

Dikatakannya, situasi ini terjadi karena media di mana pun, tidak pernah tertarik untuk mengamati perkembangan positif tersebut, ujar Malika menambahkan bahkan kampanye yang dilakukan European Muslim Network jarang diliput media di Eropa.

Sementara itu Prof Koehler menegaskan, muslim di Eropa terbukti telah menciptakan ketakutan dari masyarakat Eropa meskipun jumlahnya di Uni Eropa hanya 19 Juta atau kurang dari empat persen dari 500 juta populasi Uni Eropa.  Transformasi demokrasi di negara tetangga seperti di Tunisia juga menciptakan kekhawatiran masyarakat Eropa akan timbulnya partai politik yang berlandaskan Islam garis keras, dan akibatnya berimbas ke Eropa.

Konferensi ditutup dengan tetap menekankan perlunya dialog dengan masyarakat muslim dilakukan tokoh agama Islam yang mampu mengangkat nilai-nilai moderasi Islam. Diskusi itu, disebutkan memiliki harapan dapat menangkal radikalisme, serta menciptakan rasa saling memahami dan menghargai diantara sesama komunitas beragama.

Muslim Inggris Kesulitan Cari Pasanga


Pemuda Muslim Inggris
Pemuda Muslim Inggris
Dunia Islam, LONDON -- Pernikahan sedang menjadi hal yang sulit di kalangan Muslim Inggris. Ini membuat sebagian kalangan muda Muslim cenderung terlambat menikah.

Banyak faktor yang menyebabkan hal itu. Salah satunya, kesulitan mencari pasangan yang tepat.

Salah seorang cendikiawan Muslim menilai masalah ini perlu dicarikan solusinya. Misalnya meminta bantuan tokoh masyarakat guna membantu kalangan muda Muslim untuk menemukan pasangan yang tepat bagi anak-anaknya.

"Memang metode itu sudah usang, tapi terbukti efektif," kata cendikiawan Muslim yang enggan disebutkan namanya, seperti dikutip Asia Image, Selasa (26/3).

Ia mengatakan saat ini sebagian pemuda dan pemudi Muslim lahir dan dibesarkan di Inggris. Sebabnya, mereka perlu mencari pasangan yang memahami kehidupan Muslim dan Inggris.

"Bagi pasangan asal luar Inggris pasti akan mengalami kesulitan untuk menyesuaikan diri dengan gaya hidup masyarakat Inggris. Selanjutnya, mereka mengalami masalah dalam menjalani kehidupan normal dengan pasangannya," ujarnya.

Salah seorang Imam mengungkap masalah ini merupakan realita yang harus dihadapi. Tentunya, masalah tersebut juga membutuhkan solusi. Jangan sampai mereka salah mengambil keputusan.

"Saya kira, mereka tidak perlu malu untuk berbicara dengan kami. Kadang anak-anak itu terlalu cepat mengambil keputusan. Namun, mereka belum memahami tantangan di masyarakat, ini juga jangan diartikan jangan terlalu lama berpikir," katanya.

Pesan para imam di Inggris mendesak Muslim merujuk pada ajaran Islam ketika mencari pasangan. Itu dilakukan guna menghindari tindakan atau perilaku yang merusak kehormatan keluarga dan umat Islam.

"Anda tahu, keputusan untuk menikah didasarkan pada reputasi, karakter dan kesalehan. Sebagai individu kita harus memiliki karakter yang baik dan bertanggung jawab," imbuhnya.

Para imam juga mendesak para tokoh masyarakat untuk memberikan nasihat kepada pasangan muda guna menghindari tingginya tingkat perceraian. "Pasangan muda perlu introspeksi diri dan terbuka untuk setiap bantuan ketika mereka mengalami masalah dalam pernikahan," ucapnya.

Menurut imam, keterbukaan itu akan memudahkan pasangan memperoleh solusi yang tepat sehingga perkawinan dapat diselamatkan. Ini yang terkadang tidak dilakukan oleh pasangan. "Insya Allah, akan banyak masalah yang dapat diatasi," ujarnya mengakhiri.

Dua Alasan Muslim Spanyol & Portugal Tinggalkan Negaranya


Ribuan Muslim Spanyol shalat berjamaah di sebuah masjid di Barcelona (Ilustrasi)
Ribuan Muslim Spanyol shalat berjamaah di sebuah masjid di Barcelona (Ilustrasi)

Dunia Islam, MADRID--Krisis ekonomi yang dialami Spanyol-Portugal dan serangan islamofobia membuat umat Islam memutuskan meninggalkan kedua negara itu. Umat Muslim mulai pergi dari kedua negara itu sejak 2011.

Lembaga Statistik Spanyol dalam laporannya menyebutkan lebih dari 2.000 imigran Muslim mengajukan permohonan peralihan kewarganegaraan. Jumlah itu meningkat ketimbang tahun 2011.

Hal yang sama juga terjadi di Portugal kendati secara kuantitas tidak besar. Tercatat hanya dua persen dari populasi Muslim yang memutuskan meninggalkan Portugal.

Imam Masjid Lisbon, Sheikh David Munir mengungkap berkurangnya jumlah Muslim terlihat dari berkurangnya jamaah shalat Jumat. Semula, jumlah jamaah yang datang bisa mencapai 1.000 orang. Kini berkurang sampai 10-15 persen.

Menurut laporan, Moving on : Iberia's New Muslim, disebutkan pada awalnya imigran Muslim terkonsentrasi di daerah Martim Moniz Plaza. Di daerah itu terdapat 60 mall dan 156 toko.

Di sana, imigran Muslim asal Afrika, Pakistan, Bangladesh, dan lainnya bekerja. Namun, posisi mereka kini digantikan imigran asal Cina.

Taslim Rana, seorang pemilik toko, mengungkap kondisi ini tidak terjadi apabila pemerintah melindungi Muslim. Seperti di Inggris, pemerintahnya melindungi umat Islam.

Itu karena Inggris menganggap Muslim adalah aset. Perlakuan ini selanjutnya membuat Inggris menjadi pusat Halal Eropa.

Dahulu, populasi Muslim mencapai puncaknya ketika masa imperium Islam. Kejatuhan pemerintahan Islam dibarengi dengan populasi. Apalagi saat itu, Spanyol dan Portugis mengusir umat Yahudi dan Islam yang menolak untuk pindah agama.

Perlahan tapi pasti, semenjak ada pengakuan terhadap Islam dan Muslim membuat populasi sempat naik.

Sisters House, 'Rumah' Para Mualaf Queensland


Muslim Australia.
Muslim Australia.
Dunia Islam,, Sejak dua tahun lalu, para mualaf Queensland, Australia mendirikan sebuah rumah untuk menaungi para wanita yang melabuhkan hati pada Islam. Sisters' house, demikian tempat pemberdayaan yang dikelola para relawan yang baik hati tersebut.
Rumah para mualaf itu berada di sekitar Brisbane, tepatnya dekat dengan Masjid Kuraby. Disanalah komunitas muslimin terbesar ditemui. Di Brisbane pula muslimin hidup damai dengan masyarakat meski jumlahnya minoritas.
Seorang mualaf, Bayaan Grant mengatakan, dibentuknya Sisters' House bermula ketika dia dan para mualaf lain mengalami kesulitan hidup.
Ketika memilih berislam, banyak tantangan yang dihadapi mereka, seperti kehilangan keluarga dan teman-teman, kesepian dan tak punya tempat tinggal, hingaa kehilangan pekerjaan. Sementara itu, para mualaf juga membutuhkan pendidikan Islam untuk menjaga hidayah yang didapat.
Bersama para Muslim lain, Bayaan pun kemudian membentuk Sisters' House. Salah seorang muslimin yang ikut mengelola, Selma Cook menuturkan, ditengah era informasi yang begitu berlimpah, setiap orang dapat dengan mudah mencari pengetahuan Islam.
Namun, pengetahuan saja tidak cukup menjadikan seseorang sebagai Muslim yang baik. "Seberapa banyak umat Islam yang berhasil mengembangkan komunitas yang dibangun berdasar kesalehan dan kebajikan?" ujarnya.
Jatuh bangun pengelolaan rumah para Mualaf tersebut. Terutama ditahun-tahun awal karena minimnya dana. Hingga kemudian Queensland Charity and Welfare Association (TAQCWA) memberikan bantuan. Organisasi yang menaungu komunitas muslim di Queensland itu pun mengambil alih pengelolaan Sisters' House.
Saat ini para mualaf terutama wanita mendapat "rumah" untuk menemukan pemecahan masalah hidup, bersosialisasi dengan muslimin, serta meningkatkan keimanan mereka dengan mendpata suntikan ilmu agama.
Tak sedikit yang kemudian membawa anak-anak mereka untuk mendapat pelajaran Islam di tengah masyarakat dominan non-Islam. "Saya tidak bisa membayangkan hidup tanpa Sisters' House," ujar Bayaan.

Islam Bersemi di Buenos Aires


Islam di Argentina
Islam di Argentina
Dunia Islam, Dalam satu dekade terakhir, terjadi peningkatan jumlah mualaf dari etnis Latin sebanyak dua kali lipat. World Magazine bahkan menyebutkan, peningkatan jumlah mualaf di dunia terbanyak terjadi pada kelompok hispanik tersebut.
Fenomena pasca insiden 9/11 itu pun terjadi di salah satu wilayah Amerika Latin, yakni kota Buenos Aires di Argentina.
Argentina merupakan negara dengan penduduk muslim terbesar dibanding negara Amerika Latin lain. Berdasarkan studi Pew Forum, negara Tango ini menjadi rumah bagi hampir satu juta muslimin, atau sekitar 2,5 persen dari total populasi negara.
Dibanding kota lain, ibu kota Buenos Aires merupakan wilayah dengan proporsi Muslim terbesar di negara Amerika Selatan tersebut. "Sebuah proporsi besar penduduk Muslim di negara itu terkonsentrasi di ibu kota Buenos Aires," tulis media setempat, The Argentina Independent.
Menelusuri kota terpadat kedua di Amerika Selatan ini, Muslim memang nampak hidup nyaman tanpa diskriminasi sosial. Sedikitnya terdapat tiga masjid yang tersebar di penjuru kota dan selalu ramai terutama saat waktu Jumat.
Muslimahnya pun bebas berjalan-jalan dengan mengenakan jilbab. Apalagi mengingat beberapa tahun lalu pemerintah Argentina mengeluarkan undang-undang untuk kebebasan berjilbab. Bahkan mereka pun diijinkan mengenakan jilbab di foto-foto KTP ataupun paspor.
Selain fasilitas ibadah yang tersedia, mereka mudah mendapatkan kebutuhan pangan halal. Restoran halal tersebar di penjuru kota. Pemotongan hewan halal pun tersedia meski jumlahnya hanya satu.
Selain itu, pemakan muslim pun tersedia untuk muslimin Buenos Aires dan muslimin Argentina pada umumnya. Lokasinya di pinggiran kota Buenos Aires dengan penyediaan dan ijin penuh dari pihak pemerintah .
Keharmonisan muslimin dan masyarakat setempat yang didominasi Katolik pun makin terbentuk ketika Presiden Argentina, Cristina Kirchner berkunjung ke Islamic Center di Buenos Aires untuk mengucapkan selamat Hari Raya Idul Fitri kepada umat Islam disana pada bulan September 2010 lalu.
Menurut United Ulama Council of South Africa (UUCSA), kunjungan itu menjadi momentum berharga bagi muslimin Argentina, terutama Buemos Aires, untuk diakui eksistensinya. "Muslim hidup dalam harmoni yang sempurna dan mempraktikkan ibadah dengan kebebasan sepenuhnya, terutama setelah kunjungan itu," tulis web resmi UUCSA.

Konferensi Mualaf Sedunia Segera Dihelat


Mualaf
Mualaf
Konferensi tahunan mualaf internasional, The International Conference beralih (IRC) segera dihelat akhir tahun ini.
Konferensi kali ini merupakan yang kelima kali setelah sang penyelenggara, Revert Muslim Association (RMA), sukses menyelenggarakan empat kali konferensi.
Menurut RMA, IRC diselenggarakan dalam rangka untuk mendidik, menginspirasi dan mendorong para mualaf yang tinggal di Barat. Para mualaf dari Eropa maupun AS diundang dalam acara tersebut. “Mereka berasal dari latar belakang budaya yang beragam dan perlu pengetahuan Islam,” tulis web.
Selain itu, silaturahim antar mualaf juga menjadi tujuan acara. Mereka akan diajak sharing pengalaman maupun tantangan menjadi mualaf di negeri Barat yang notabene sangat anti-Islam. Kendati konferensi tersebut membahas isu mengenai mualaf, namun semua orang terbuka lebar untuk ikut hadir.
Tahun lalu, IRC dihelat di London awal September selama tiga hari. Belum jelas di negara mana IRC akan dihelat tahun ini. Namun IRC seringkali dihelat di Kanada, terutama kawasan Ontario yang memiliki komunitas Muslim yang besar.